Review Buku

Bedah Buku : The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai Bagian 2

Tulisan ini adalah bagian kedua, jika belum silahkan baca The Dhandho Investor Bagian 1. Ok, selanjutnya kita akan memasuki bagian inti dari buku ini.

Kerangka Berpikir Dhandho

Kerangka Berpikir Dhandho terdiri dari 9 prinsip yakni :

1. Berinvestasi pada Bisnis yang Telah Ada (Invest in Existing Businesses)

Kenapa saat Papa Patel baru tiba di Amerika tidak berusaha mencoba memulai usaha yang benar-benar baru seperti misalnya restoran vegetarian? Kenapa dia malah membeli bisnis yang telah lama ada yakni bisnis motel? Hal itu tidak lain karena bisnis yang telah lama beroperasi pastinya lebih mudah diamati dan dianalisa. Dengan membeli bisnis yang telah lama dikenal dan dioperasikan maka tingkat resiko kegagalannya lebih rendah.

2. Berinvestasi pada Bisnis yang Sederhana (Invest in Simple Businesses)

Sebelum kita membeli saham suatu perusahaan, kita harus mengetahui nilai intrinsik dari emiten tersebut. Bagaimana kita dapat mengetahui harga di Bursa merupakan harga yang layak kita beli? Berapa nilai intrinsik dari suatu emiten? Apakah terdapat suatu rumus umum? Bagaimana kita mengetahuinya?

Setiap bisnis memiliki nilai intrinsik dan hal tersebut ditentukan dengan rumus sederhana yang sama. John Burr Williams merupakan orang yang pertama mengemukakan itu di buku The Theory of Investment Value yang diterbitkan pada tahun 1938. Menurut Williams, nilai intrinsik dari bisnis apa pun ditentukan dari arus kas masuk dan keluar – yang didiskontokan pada satu tingkat suku bunga yang sewajarnya – di mana nilai tersebut dapat diharapkan terus ada selama bisnis tersebut beroperasi. Contoh ini sudah diilustrasikan di kisah Papa Patel.

Nah bagaimana kita dapat menghitung arus kas masuk dan keluar dari emiten yang akan kita beli sahamnya? Tentunya kita harus mampu menganalisa perusahaan tersebut. Bisnis motel mudah dianalisa oleh Papa Patel karena sifat bisnisnya sederhana.

Kutipan dari Warren Buffet “Perubahan (Iklim bisnis yang mudah berubah) itu musuh dari investasi, jadi kita mencari bisnis yang tidak terdapat hal tersebut. Kita tidak suka kehilangan uang. Kapitalisme itu cukup brutal. Kita mencari produk umum yang dibutuhkan oleh setiap orang.” Berinvestasilah pada bisnis yang sederhana untuk dipahami dengan tingkat perubahan iklim bisnis yang sangat lambat dalam jangka waktu panjang.

Namun bagaimana jika kita ingin membeli saham Google? Dapatkah kita memprediksi arus kas masuk keluar dan pemakaiannya? Tentunya rumit bukan? Di dalam kerangka berpikir Dhandho kita hanya berinvestasi dalam bisnis yang sederhana di mana kita dapat dengan mudah membuat asumsi mengenai arus kas masa depan. Kriteria bisnis yang sederhana itu bagaimana? Tidak ada patokan pasti karena setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing. Kuncinya KISS – Keep It Sweet and Simple.

3. Berinvestasi di Bisnis yang sedang Tertekan dalam Sektor Industri yang juga sedang Tertekan (Invest in Distressed Businesses in Distressed Industries)

“I will tell you how to become rich. Close the doors. Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful.” – Warren Buffett

Contoh yang tepat untuk menggambarkan prinsip ini yakni kisah Papa Patel yang membeli motel saat terjadi embargo minyak, resesi parah, pelemahan daya beli konsumen. Waktu terbaik untuk membeli sebuah bisnis yakni pada prospek masa depannya terlihat kelam di mata umum padahal sebenarnya terdapat potensi dari keadaan tertekan tersebut.

Pasar Saham tidak sepenuhnya efisien karena manusia mengendalikan harga-harga saham melalui mekanisme lelang. Manusia sangat rentan berada di antara kondisi ketakutan dan ketamakan yang ekstrim. Saat satu grup pemegang saham tertentu merasa sangat ketakutan maka harga saham dari emiten akan jatuh di bawah nilai intrinsiknya dan sebaliknya. Mulailah membaca berita, mencari informasi mengenai sektor-sektor ataupun saham-saham yang kondisinya sedang tertekan dan dijual dengan harga di bawah nilai intrinsiknya serta pastikan saham-saham tersebut memiliki prospek masa depan yang bagus.

Di bab ini juga direkomendasikan buku The Little Book That Beats the Market yang ditulis oleh Joel Greenblatt.

4. Berinvestasi di Bisnis yang memiliki Parit / Keunggulan Kompetitif yang dapat bertahan lama (Invest in Businesses with Durable Moats)

Moats secara sederhana diartikan sebagai keunggulan yang dimiliki oleh satu emiten yang tidak dapat ditiru oleh kompetitor atau calon kompetitornya. Bayangkan sebuah parit yang mengelilingi sebuah istana, semakin susah ditaklukkan parit tersebut maka semakin aman istana tersebut. Parit tersebut tidak lain merupakan Moats dan istana merupakan bisnis yang sedang dijalankan. Di buku ini juga dijelaskan beberapa perusahaan yang memiliki Moat seperti American Express, Coca Cola, BMW, Nabisco’s Oreo Cookies, dan lain-lain.

Lalu bagaimana kita mengetahui suatu bisnis memiliki Moat? Jawabannya ada di Laporan Keuangan. Semakin banyak jumlah Free Cash Flow yang mampu dihasilkan emiten tersebut dalam satu tahun maka Moat yang dimiliki bagus dan masih mampu bertahan.

Dalam buku The Living Company yang ditulis oleh Arie de Geus dinyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang berhasil masuk ke Fortune 500 hanya memiliki harapan keberlangsungan usaha sekitar 40 – 50 tahun. Dibutuhkan waktu sekitar 25 – 30 tahun untuk masuk ke dalam daftar Fortune 500 dan setelah itu kurang dari 20 tahun bisnis mereka sudah tidak bertahan lagi.

Tidak ada satu pun bisnis dengan Moats yang bersaing dapat bertahan selamanya. Di buku ini dijelaskan juga bahwa jangan menghitung asumsi Discounted Cash Flow lebih dari 10 tahun.

“Few Bets. Big Bets. Infrequent Bets.” – Monish Pabrai

5. Sedikit bertaruh, Bertaruh dalam Jumlah Besar, Sesekali Bertaruh (Few Bets, Big Bets, Infrequent Bets)

Di bagian ini dijelaskan bahwa saat terdapat krisis seperti “Kejatuhan Prancis 1940”, “Kepanikan Krisis Finansial 1987”, dan “Krisis Pasar Saham Asia 1997” maka nilai saham dari para emiten di bursa pada akhirnya akan kembali diperdagangkan di kisaran nilai intrinsiknya. Jadi daripada setiap hari bertaruh di pasar saham maka praktekkan “Few Bets, Big Bets, Infrequent Bets”. Tunggulah saat peluang benar-benar berpihak kepada kita.

Joel Greenblatt mengalokasikan 80% asetnya ke dalam 5 emiten terbaik menurut risetnya Pabrai menyarankan menaruh 80% asset ke dalam 7 – 10 emiten terbaik. Jadi berinvestasi harus dilakukan setelah kita yakin peluang untuk mendapatkan keuntungan benar-benar ada di pihak kita. Carilah saham-saham yang salah harga dan berinvestasilah dalam jumlah besar di saham tersebut.

6. Fokus pada Arbitrase (Fixate On Arbitrage)

Arbitrase adalah strategi membeli dan menjual suatu barang yang sama dengan memanfaatkan selisih harga di tempat-tempat yang berbeda. Misalnya arbitrase dalam barang komoditas emas, pada hari yang sama, emas dijual seharga USD 1100 per ons di London dan USD 1150 di New York. Kita dapat membeli emas di London dan segera menjualnya di New York. Tindakan tersebut dinamakan arbitrase.

Bagaimana dengan arbitrase di Pasar Saham? Salah satunya yakni arbitrase yang timbul dari Merger. Misalkan Perusahaan A mengumumkan hendak akan membeli saham Perusahaan B di harga Rp. 1.000,- per lembar saham. Sebelum pengumuman tersebut, harga saham B diperdagangkan di harga Rp. 900,- per lembar. Jadi jika seorang investor membeli saham B di harga Rp. 900,- dan tetap menyimpannya hingga merger tersebut sukses dilakukan maka terdapat keuntungan sebesar Rp. 100,- per lembar saham. Namun tindakan ini bukannya tanpa resiko, resiko kegagalan selalu ada misalnya tidak mendapatkan persetujuan pemerintah, tidak mendapat persetujuan saat Rapat Umum Pemegang Saham dan sebagainya.

7. Margin Of Safety – Always!

Analogi untuk mendefinisikan Margin of Safety yakni suatu saham yang nilai intrinsiknya Rp. 10.000,- namun pada satu waktu tertentu diperdagangkan dengan nilai Rp. 8.000,-. Selisih antara nilai intrinsik dan nilai yang diperdagangkan tersebut dinamakan Margin of Safety dalam hal ini Margin of Safety – nya di 20%. Jika kita ingin anggap Margin of Safety yang layak di 30% maka kita baru membeli saham tersebut jika harganya di Rp. 7.000,-.

Benjamin Graham mengemukakan bahwa :
a. Semakin besar diskon terhadap nilai intrinsik maka semakin rendah resikonya.
b. Semakin besar diskon terhadap nilai intrinsik maka semakin tinggi imbal hasil.

Tuan Buffet berasumsi saham-saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya akan kembali ke nilai intrinsiknya dalam waktu kurang dari tiga tahun. Pengalaman beliau selama menjadi investor selama tujuh tahun terakhir bahwa nilai intrinsiknya saham yang sedang dibuang oleh Pasar biasanya kembali di harga wajarnya dalam 18 bulan. Kebanyakan saham diperdagangkan pada nilai intrinsik ataupu di atas nilai intrinsiknya. Kuncinya yakni bersabar menunggu diskon.

8. Berinvestasi pada Bisnis Dengan Resiko Rendah yang Dirundung Kondisi yang Penuh Ketidakpastian (Invest in Low-Risk, High-Uncertainty Businesses)

Pada bab ini dicontohkan saat Pabrai membeli saham yang bergerak di bidang Jasa Pemakaman yakni Stewart Enterprises yang telah berdiri sejak tahun 1910. Pada tahun 1990-an bisnis jasa pemakaman menjadi begitu fashionable sehingga perusahaan mereka menjadi perusahaan bernilai milyaran dollar Amerika. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang yang sama seperti Loewen, Service Corp dan Carriage Services saat itu gencar berekspansi dan mengakuisisi bisnis serupa namun dengan mengandalkan hutang. Tidak lama kemudian Loewen bangkrut karena tidak mampu membayar hutang. Wall Street tidak lagi bereuforia dalam melihat prospek bisnis pemakama dan saham-saham di industri ini mulai jatuh nilainya. Bank dan para pemodal lainnya tidak lagi tertarik untuk meminjamkan uang kepada para pebisnis pemakaman ini dan tidak mau melihat utang yang terus bertambah di laporan keuangan bisnis pemakaman. Tanpa akuisisi maka penjualan menjadi datar dan tidak dapat bertumbuh.

Stewart di tahun 2000 berada dalam lilitan hutang jangka panjang senilai USD 930 juta dan sejumlah USD 500 juta akan jatuh tempo di tahun 2002. Wall Street mulai meragukan bisnis pemakaman ini dan menilai pelaku bisnis pemakaman akan bangkrut. Nilai saham Stewart jatuh dari USD 28 per lembar menjadi USD 2 per lembar hanya dalam 2 tahun.

Saat musim gugur tahun 2000, Pabrai menemukan dua saham dengan nilai price to earning ratio (PER) terendah yakni Service Corp dan Stewart Enterprises. Dua nama perusahaan tersebut sama sekali belum pernah terdengar olehnya. Beliau mencari tahu dan menemukan bahwa keduanya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pemakaman. Suatu bisnis yang menurutnya sederhana sehingga beliau mencoba untuk menganalisa lebih dalam.

Menurut sebuah artikel yang dipublikasi di Chicago Tribune pada pertengahan tahun 1990-an, bisnis yang paling susah gagal adalah bisnis pemakaman. Pabrai merenungkan hal tersebut dan merasa hal tersebut masuk akal karena :

a. Keluarga yang sedang berduka berkehendak agar upacara pemakaman berlangsung dengan benar. Mereka tidak membanding-bandingkan harga dan mencari jasa pemakaman yang paling murah. Mereka cenderung mengikuti tradisi dan menggunakan jasa pemakaman yang ditawarkan oleh Rumah Duka yang sebelumnya pernah dipakai oleh mereka.

b. Dia tidak menemukan bahwa remaja-remaja bercita-cita ingin menjadi orang terkaya dalam usaha pemakaman. Sifat bisnis pemakaman ini juga menghalangi start-up lainnya untuk memulai bisnis serupa.

c. Seperti yang dikemukakan Warren Buffett, industri yang berubah terlalu cepat merupakan industri yang buruk di mata investor. Bisnis pemakaman merupakan suatu industri yang sudah ada satu aturan baku dan sangat lambat berubah tradisinya dalam ratusan tahun.

d. Populasi penduduk Amerika terus bertumbuh dan diharapkan terus bertambah sehingga menjadi potensi bisnis bagi industri pemakaman.

e. Meskipun usia harapan hidup bertambah namun terdapat suatu kebutuhan untuk booking lebih awal jasa pemakaman. Booking lebih awal tersebut berkontribusi sebanyak 25% dari total pendapatan bagi kebanyakan pelaku industri pemakaman. Bagaimana mungkin anda menolak berada di suatu bisnis di mana anda mendapatkan pembayaran di muka dari pelanggan atas jasa yang mungkin baru akan anda sediakan di 40 tahun mendatang?

Dari perhitungan Pabrai, nilai wajar saham Stewart seharusnya USD 4 per lembar. Hingga Juli 2000, masih terdapat ketidakpastian bagaimana Stewart akan membayar hutang-hutangnya. Saat itu Stewart memiliki total pendapatan tahunan sebesar USD 700 juta dan memiliki 700 pemakaman dan rumah duka di sembilan negara, kebanyakan di Amerika Serikat. Pabrai berasumsi hanya terdapat 1% kemungkinan kehilangan uang yang diinvestasikan dari 5 skenario yang dibuatnya. Maka itu Pabrai menginvestasikan 10% asset yang dimiliki ke saham Stewart dan berencana menjualnya jika saham Steward diperdagangkan di USD 4 per lembarnya dalam waktu 2 tahun.

Beberapa bulan kemudian tepatnya pada Maret 2001, Stewart mengumumkan bahwa perusahaannya tengah menjajaki penjualan aset berupa tanah pemakaman dan rumah duka yang dimiliki di luar Amerika Serikat seperti Eropa, Meksiko dan sebagainya. Aset internasional tersebut bernilai sekitar 20% dari total pendapatan dan aset namun tidak menghasilkan banyak uang. Nilai aset internasional tersebut yakni sektiar USD 460 juta. Situasi yang awalnya penuh ketidakpastian tersebut mulai beranjak pulih dan sahamnya naik dari USD 2 menjadi USD 3. Beberapa minggu kemudian, Stewart telah membayar hutang sebanyak USD 50 juta dan arus kas perusahaan tetap baik. Akibatnya beberapa minggu kemudian, nilai sahamnya berada di atas USD 4 dan Pabrai pun menjual keseluruhan sahamnya di Stewart. Tidak lama kemudian saham Stewart reli ke USD 8 per lembar dan kemudian diperdagangkan pada kisaran harga USD 6 – 8 per lembar.

Wall Street tidak dapat membedakan “resiko” dan “ketidakpastian” dan kebingungan di antara kedua hal tersebut. Investor yang cerdas seperti Buffett dan Graham memanfaatkan kondisi tersebut dan mendapatkan hasil yang spektakuler. Jadi carilah saham-saham yang resikonya rendah dan dirudung oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Ketakutan dan ketamakan sangat memengaruhi manusia dalam memutuskan pembelian dan penjualan saham. Pasar saham diumpamakan seperti sebuah teater berkapasitas penuh. Ketika seseorang melihat ada asap dan berteriak “Kebakaran! Kebakaran!”. Maka ada arus orang yang tergesa-gesa ke pintu keluar. Di dalam teater yang dinamakan Bursa Saham, kamu hanya dapat keluar jika orang lain membeli kursimu. Setiap lembar saham harus dipegang oleh seseorang! Jika terdapat kepanikan massal untuk meninggalkan teater tersebut, pada harga berapa menurut Anda layak untuk dilepas? Triknya adalah hanya membeli kursi-kursi pada teater-teater dimana terdapat eksodus massal dan kamu tahu bahwa tidak terdapat kebakaran sama sekali atau kalaupun ada api, api tersebut hampir dipadamkan. Banyak-banyaklah membaca dan menunggulah dengan sabar, akan terdapat suatu waktu dimana taruhan-taruhan seperti contoh di atas hadir dan menunjukkan dirinya kepada anda.

9. Berinvestasi ala “Peniru” daripada “Penemu” (Invest in the Copycats rather than the Innovators)

Masih ingatkah dengan kisah Papa Patel dan motelnya. Papa Patel saat itu tidak berinvestasi dalam satu bisnis yang baru (innovators) namun pada bisnis yang telah ada (copycats). Mereka mencontoh model bisnis yang telah ada, fokus pada suatu ide yang terbukti berhasil mendongkrak bisnis tersebut dan membesarkan bisnis terebut. Jika mereka saat itu berinovasi misalnya menciptakan hotel kapsul, maka resikonya terlalu tinggi dan peluang untuk berhasil menjadi tidak pasti. Kebanyakan pengusaha juga meniru model bisnis yang telah ada seperti Gojek, Grab yang meniru Uber, dulu sempat trending bisnis kupon makanan yang meniru Groupon. Bahkan Microsoft juga meniru bisnis lain dan mengakuisisinya seperti MS-DOS yang dulu dikenal dengan nama Quick and Dirty Operating System yang dimiliki oleh Seattle Computer, Windows Network yang meniru sistem Novell Network dan Unix.

Pabrai sendiri dalam menjalankan institusi investasinya juga meniru Buffett. Inti yang ingin disampaikan yakni dengan meniru maka resiko kegagalan dapat diminimalisir. Namun tentunya harus dilakukan riset terlebih dahulu sebelum meniru. Dalam berinvestasi juga demikian, abaikan perusahaan-perusahaan yang dikategorikan sebagai “penemu”. Carilah perusahaan-perusahaan yang telah berhasil menunjukkan kemampuannya dalam meniru dan membesarkan bisnisnya. Inilah yang dinamakan Dhando Way.

Bagian terakhir yang menarik menurut saya yakni terdapat 7 pertanyaan sebelum membeli suatu saham :

  1. Apakah saya memahami bisnis tersebut dengan baik? Apakah kompetensi saya cukup untuk memahaminya?
  2. Apakah saya mengetahui nilai intrisik bisnis tersebut saat ini dan dapatkah saya dengan percaya diri mengestimasi perubahan-perubahan bisnis tersebut di beberapa tahun mendatang?
  3. Apakah saham tersebut diperdagangkan dalam harga yang super diskon dibandingkan dengan nilai intrinsiknya saat ini, dan dalam 2 atau 3 tahun mendatang? Seberapa besar diskon tersebut? Di atas 50% kah?
  4. Apakah saya rela menginvestasikan sebagian besar kekayaan bersih yang saya miliki saat ini ke bisnis tersebut?
  5. Apakah potensi kegagalannya minimal?
  6. Apakah bisnis tersebut memiliki moat?
  7. Apakah bisnis tersebut dijalankan oleh para manajer yang berkompeten dan jujur?

Sebelum membaca buku ini, Jim Bear Club juga telah memaparkan hal yang senada yakni Pertanyaan Penting sebelum membeli suatu saham.

Kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari buku ini yakni harus kepo maksimal dalam mencari tahu nilai intrinsik suatu saham, tidak hanya sebatas angka-angka (jangan murah tapi murahan), rajin membaca Annual Reports, namun juga harus peka dan bisa membuat skenario-skenario terbaik dan terburuk yang akan dialami oleh emiten tersebut. Tentunya tidak ada riset yang benar-benar benar 100%, di saat kita salah maka kita harus dengan berani mengakui dan keluar dari saham tersebut.

Buku ini benar-benar menarik untuk dibeli dan dibaca, hampir semua ceritanya penting dan ingin kutulis semuanya di review ini (kalau sudah begitu mah jadi proyek terjemahan ya hahaha). Silahkan beli saja buku ini, benar-benar buku bagus.

Terima kasih Jimbear atas kesempatan yang diberikan untuk mengulas buku ini.

Pranala Terkait :

  1. Buku The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai
  2. Blog Mohnish Pabrai : Chai with Pabrai

Iklan

0 comments on “Bedah Buku : The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: