Review Buku

Bedah Buku : The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai Bagian 1

Berikut adalah bedah buku kelima yang baru saja dipresentasikan oleh @Junsen di Jim Bear Club.

Heads I win, tails I don’t lose much. – Monish Pabrai

Tak kenal maka tak sayang. Nah, sebelum saya mulai mengulas maka ada baiknya kita mengenal siapa sih itu Mohnish Pabrai? Prestasinya apa saja sehingga buku ini layak kita beli.

Mohnish Pabrai dulunya merupakan karyawan di perusahaan Tellabs yaitu perusahaan yang bergerak di bidang Jaringan/Networking. Dia bekerja di perusahaan tersebut dari tahun 1986 hingga tahun 1991 dan terakhir ditugaskan untuk menangani bagian Penjualan dan Pemasaran Internasional. Lalu pada tahun 1991, Mohnish memutuskan untuk mendirikan perusahaan konsultasi dan integrasi sistem di bidang Informasi Teknologi dengan nama TransTech, Inc. Modal yang dibutuhkan untuk mendirikan perusaahaan tersebut yakni USD 30 ribu dari tabungan pensiunnya dan USD 70 ribu dari kartu kredit. Sembilan tahun kemudian tepatnya di tahun 2000, beliau menjual TransTech senilai USD 20 juta!!!

Saat ini beliau mengelola Pabrai Investment Funds yakni sebuah Institusi Pengelola Dana Investasi di mana hingga tahun 2013 insitusinya memiliki kekayaan bersih sejumlah USD 60 juta. Jumlah kekayaan bersih tersebut setiap tahunnya bertumbuh pada kisaran 16% dari tahun 1995 sampai 2012. (sumber : investopedia)

Pabrai mengagumi Warren Buffett dan Charlie Munger jadi kebanyakan idenya berasal dari kedua tokoh ini.

Okay, jadi Dhandho Investor itu apa sih? Dhandho sendiri merupakan istilah yang berasal dari bahasa Gujarat – India yang berarti kerja keras untuk menghasilkan kekayaan. Kita semua diajarkan bahwa untuk menghasilkan sebuah keuntungan yang tinggi maka diperlukan resiko yang tinggi juga. Namun Dhandho memutarbalikkan konsep tersebut yakni dengan meminimalkan resiko sambil memaksimalkan keuntungan. Jadi istilah Dhandho juga dapat diartikan kerja keras untuk menghasilkan kekayaan dengan hampir tidak ada resiko.

Kita belajar sejarah singkat sebelum berkenalan dengan salah satu pengusaha sukses yang kampung halamannya dari Gujarat – India yakni Papa Patel Motel Dhandho. Gujarat terkenal dengan banyak pengusaha sukses dan banyak dari mereka merantau ke negara-negara Asia dan Afrika untuk berbisnis. Banyak keturunan dari “Patel”, istilah untuk tuan tanah di Gujarat, bertransmigrasi ke Uganda – Afrika dan di sana mereka menguasai sebagian besar bisnis, para Pada tahun 1972, Amin yang baru diangkat sebagai pemimpin Uganda – Afrika mendeklarasikan bahwa Afrika adalah milik penduduk Afrika. Akibatnya semua penduduk Uganda keturunan Asia diusir keluar. Aset-aset mereka dinasionaliasasi. India saat itu juga menolak menerima kembali para penduduk keturunan India yang diusir dari Uganda karena sudah banyak pencari suaka asal Bangladesh yang juga datang ke India. Pilihan yang tersisa saat itu yakni negara Inggris, Kanada atau Amerika Serikat karena India merupakan jajahan Inggris.

Papa Patel

Papa Patel tiba di Amerika Serikat sekitar tahun 1973. Amerika saat itu sedang dalam keadaan resesi. Sektor Motel/Penginapan merupakan salah satu yang banyak ditutup dan dijual murah. Papa Patel melihat sebuah motel dengan 20 buah kamar sedang dijual dengan harga yang sangat murah. Saat itu dia berpikir, jika dia membeli motel tersebut maka penjual ataupun bank kemungkinan akan meminjamkan dana sekitar 80–90 persen dari harga penjualan. Keuntungan lainnya Papa Patel tidak perlu memusingkan harus tinggal dimana dan menghabiskan biaya sewa untuk akomodasi. Papa Patel, istrinya dan ketiga anaknya semuanya turut bekerja dalam pengelolaan hotel tersebut. Mereka tidak merekrut seorang pun dalam menjalankan motel tersebut yang berarti tidak terdapat biaya tenaga kerja sama sekali. Semua pengeluaran dikontrol dan diawasi seksama.

Motel Papa Patel merupakan motel dengan biaya operasional terendah dibandingkan motel serupa di kawasan tersebut. Dia dapat menawarkan harga menginap yang paling rendah dan tetap dapat mempertahankan keuntungan atau bahkan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pesaingnya ataupun pemilik motel terdahulu. Hasilnya, tingkat okupansi motelnya lebih tinggi dan menghasilkan keuntungan di atas tingkat wajar. Para pesaingnya mulai mengalami penurunan tingkat okupansi dan sangat tertekan dalam persaingan harga menginap. Struktur biaya para pesaingnya menghalangi mereka untuk dapat menawarkan harga menginap yang serupa dengan motel Papa Patel sehingga kejatuhan tingkat okupansi dan keuntungan tidak dapat terelakkan lagi.

Kebanyakan “Patel” juga merupakan vegetarian dan menjalani hidup yang sangat sederhana. Di tahun 1970-an, kebanyakan restoran di Amerika tidak menyajikan menu vegan sehingga lebih menarika jika makan di rumah dan juga lebih murah tentunya. Keluarga Papa Patel sepanjang hari dan malam sibuk mengurusi motel sehingga memiliki sedikit waktu untuk kegiatan rekreasi. Sehingga total pengeluaran biaya hidup keluarga mereka sangat sangat rendah sekali. Dengan hanya memiliki satu unit mobil bekas yang sudah berumur, tidak dibebani biaya Kredit Pemilikan Rumah, biaya sewa, biaya air, listrik, biaya transportasi, makan di luar rumah, rekreasi atau hiburan sejenisnya, keluarga Papa Patel hidup cukup nyaman hanya dengan menghabiskan USD 5.000 per tahun.

Nah, kita mulai hitung-hitungan biaya pada zaman 1970-an, upah minimum per jam saat itu yakni USD 1.6. Total penghasilan setahun tertinggi yang dapat dihasilkan oleh Papa dan Mama Patel jika keduanya bekerja full time yakni sekitar USD 6.000. Jika mereka membeli sebuah motel dengan 20 kamar pada harga yang paling diskon di USD 50.000 dengan skema pembayaran tunai USD 5.000 dan sisanya dipinjam oleh bank, maka meskipun harga menginap per kamar per malam di kisaran USD 12 – 13 dan tingkat okupansi per tahun di kisaran 50 – 60% maka motel tersebut akan menghasilkan pendapatan per tahun sebesar USD 50.000.

Saat awal 1970-an, nilai bunga dari Surat Utang Negara berada di kisaran 5%, pemilik hotel ataupun kebanyakan bank pasti sangat senang untuk membiayai pinjaman atas pembelian motel tersebut dengan mengenakan suku bunga pinjaman di 10-12% dengan jaminan surat properti. Sehingga Tuan Patel setiap tahunnya memiliki kewajiban untuk membayar :

Tabel 1.1

Penghasilan Bersih Papa Patel setahun berada di atas USD 15.000 setelah pemotongan pajak dan biaya hidup. Jika saat itu dia meminjam USD 5.000 untuk membeli motel tersebut maka dalam 4 bulan Papa Patel sudah mampu mengembalikan uang tersebut.

Ok, perhitungan tersebut terdengar sangat menjanjikan bukan? Bagaimana jika ternyata usaha motel tersebut gagal? Motel tersebut pastinya akan disita oleh bank. Namun motel tersebut merupakan satu-satunya aset yang dimiliki oleh Papa Patel sehingga Bank tidak dapat menyita apa-apa lagi. Bank tentunya tidak tertarik mengambil alih motel tersebut dan menjalankan bisnis motel karena tidak memiliki kompetensi di bidang tersebut. Pihak bank juga akan kesulitan untuk menjual motel yang mencetak kerugian.

Jadi jika Papa Patel tidak dapat menjalankan bisnis motel tersebut secara menguntungkan maka tidak seorang pun juga dapat melakukannya. Opsi terbaik yang dimiliki oleh pihak Bank yakni mendorong agar Papa Patel dapat menghasilkan keuntungan dalam menjalankan motel tersebut. Bank cenderung akan menegosiasikan kembali syarat-syarat pembayaran pinjaman dan kemungkinan besar akan memberikan kelonggaran penundaan pembayaran bunga dan pokok pinjaman beberapa bulan hingga bisnis motel membaik. Setelah itu pihak bank mungkin akan menaikkan tingkat suku bunga pinjaman untuk mengkompensasi kehilangan tersebut. Jadi akhir dari skenario tersebut yakni tetap dan pasti bahwa Papa Patel akan tetap mengelola motel tersebut, keluarganya dapat tinggal di sana dan dia akan bekerja sekeras dan secerdik mungkin untuk keberhasilan motel tersebut. Ya, hanya itu satu-satunya pilihan yang dimiliki oleh Papa Patel, menjalankan motel dan mencetak keuntungan atau bangkrut dan tinggal di jalanan!

Sekarang mari kita analisa investasi yang dilakukan Papa Patel sebagai sebuah taruhan. Terdapat tiga kemungkinan hasil akhir yakni :

Pertama, investasi USD 5.000 tersebut menghasilkan Free Cash Flow sebesar USD 15.000 per tahun selama 10 tahun di akhir tahun ke-10 motel tersebut dijual dengan harga USD 50.000. Asumsi tingkat diskonto di 10% dan menggunakan metode Discounted Cash Flow sebagaimana Tabel 1.1. Maka keuntungan dari investasi tersebut setara dengan 21 kali lipat dari nilai awal investasi.

Kedua, keadaan ekonomi memasuki resesi parah dan bisnis terpuruk selama beberapa tahun. Bank menegosisasikan kembali persyaratan pembayaran pinjaman seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Papa Patel tidak menghasilkan keuntungan apapun selama lima tahun pertama dan kemudian mulai mencetak Free Cash Flow USD 10.000 per tahun dan di akhir tahun ke-10 motel tersebut dijual. Maka investasi tersebut setara dengan 7 kali lipat dari nilai awal investasi.

Ketiga, ekonomi mengalami resesi parah dan bisnis terpuruk. Tuan Patel tidak dapat membayar dan bank menyita motel tersebut. Tuan Patel kehilangan investasinya.

Adapun tingkat keberhasilan dari ketiga skenario di atas yakni skenario pertama 80%, skenario kedua 10%, dan ketiga 10%. Kemungkinan di atas dihitung dengan sangat konservatif di mana kita menganggap tidak ada kenaikan tarif inap selama sepuluh tahun sama sekali. Jika Anda menghadapi situasi di atas, apakah Anda akan mengambil peluang tersebut?

Taruhan yang dilakukan oleh Papa Patel bukanlah taruhan tanpa resiko sama sekali namun merupakan taruhan dengan tingkat resiko yang sangat rendah namun tingkat keuntungan yang tinggi. Sama seperti saat kita melempar koin, Sisi depan saya menang taruhan, sisi belakang maka saya tidak banyak merugi! Heads, I win; tails, I don’t lose much!

Meskipun kelihatannya Papa Patel menaruh semuanya dalam satu taruhan namun dia tetap memiliki kartu As lainnya. Jika pemberi pinjaman menyita motel tersebut sehingga dia kehilangan motel maka dia dan istrinya dapat tetap bekerja penuh waktu. Dalam dua tahun mereka dapat menabung sekitar USD 4.000 – 5.000 dan kembali mencoba membeli motel lainnya. Bagaimanapun juga, resiko untuk kalah sangatlah kecil. Heads, I win; tails, I don’t lose much!

Kenyataannya Papa Patel berhasil mengelola motel tersebut dengan sangat baik. Dia masih menjalani hidup yang sederhana. Motel tersebut diserahkan kepada putra tertuanya yang telah dewasa. Mereka membeli rumah yang sederhana dan memburu motel lainnya untuk dibeli. Kali ini mereka membeli motel dengan 50 kamar. Keluarga Patel tidak lagi tinggal di motel namun tetap melakukan banyak pekerjaan yang berhubungan dengan motel tersebut dengan biaya seminimal mungkin. Formula mereka dalam menjalankan motel sederhana yakni menjaga agar biaya yang dikeluarkan serendah mungkin, mengenakan tarif menginap paling rendah dari semua pesaing, memaksimalkan tingkat okupansi dan free cash flow.

Kemudian mereka mengalihkan bisnis motel tersebut kepada keluarga Patel lainnya sambil menambah lebih dan lebih banyak lagi motel. Efek seperti bola salju dimana hampir separuh dari seluruh motel di Amerika dimiliki oleh Patel. Setelah mendominasi bisnis motel, kini Patel mulai membeli hotel yang lebih modern, dan bisnis lainnya di mana mereka dapat menerapkan strategi biaya operasional paling rendah seperti statisun pengisian gas, waralaba Dunkin Donuts, minimarket (7-Eleven) dan sejenisnya. Beberapa keluarga Patel bahkan mulai masuk ke bisnis penyewaan apartemen mewah. Bola salju tersebut hingga sekarang terus bergulir dan bertambah besar seiring waktu.

Bersambung ke Bagian II

Pranala Terkait :

  1. Buku The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai
  2. Blog Mohnish Pabrai : Chai with Pabrai

2 comments on “Bedah Buku : The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai Bagian 1

  1. Mantap 👍

    Suka

  2. Ping-balik: Bedah Buku : The Dhandho Investor oleh Mohnish Pabrai Bagian 2 – Jim Bear Club

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: