Review Buku

Bedah Buku : Lessons from Private Equity Any Company Can Use By Orit Gadiesh & Hugh MacArthur

Berikut adalah bedah buku keempat yang baru saja dipresentasikan oleh @edsaverin di Jim Bear Club.

It’s about how to make businesses more valuable, regardless of who owns them

Buku ini berjudul “Lessons From Private Equity Any Company Can Use” yang artinya kira-kira “Pelajaran dari Private Equity yang Setiap Perusahaan Bisa Gunakan.”

Buku ini dikarang oleh Orit Gadiesh dan Hugh MacArthur. Orit Gadiesh adalah chairman Bain & Company yang merupakan perusahaan konsultan bisnis dan Hugh MacArthur adalah salah satu partner B&C.

Bain & Co sendiri juga lahir dari BCG. Pendirinya sebelumnya pernah kerja di BCG, Bill Bain sempat digadang-gadang akan jadi pelanjut CEO dari BCG, tapi resign lalu mendirikan Bain & Co.

Kerjanya ngapain sih Bain & Co ini? Ya konsultasi bisnis, misal konsultan struktur perusahaan, struktur organisasi internal, pelatihan skill manajemen, strategi, dan lain-lain.

Di dalam buku ini Gadiesh dan MacArthur bercerita tentang pengalaman mereka membantu Private Equity (PE) dalam mengelola perusahaan. Jadi mereka ini bukan PE seperti Northstar, KKR, Quvat, atau Affinity ya, tapi konsultan yang membantu Private Equity dalam mengelola bisnis.

Oleh karena itu, di buku yang cukup ramping ini mereka tidak menjelaskan terlalu banyak tentang cara kerja PE itu sendiri dan bagaimana skema-skema yang digunakan private equity terutama soal (financing) merger & acquisition, tapi lebih ke bagaimana manajemen perusahaan yang diakuisisi oleh PE mengelola perusahaan. Meskipun ada menyinggung pengalaman “anak perusahaan” Bain & Co yaitu Bain Capital yang bekerja sama dengan PE Charlesbank Capital Partners akuisisi perusahaan Sealy Corporation, tapi hanya dijelaskan sangat singkat, tidak sampai 3 halaman.

Oke, sebelum masuk bagaimana dan apa saja “Pelajaran dari Private Equity yang Setiap Perusahaan Bisa Gunakan”, mungkin flashback lagi atau bagi yang belum tau, “Private Equity itu apa sih?”

Mengenal Private Equity

Private Equity adalah sebuah perusahaan investasi yang secara sederhana bisnisnya adalah membeli perusahaan lalu merestrukturisasinya.

Kenapa kok harus direstrukturisasi? Karena sejarah PE tidak terlepas peristiwa krisis yang beberapa kali menimpa ekonomi AS, yang akhirnya melahirkan suatu “teknik akuisisi” yaitu LBO atau Leveraged Buy Out atau akuisisi menggunakan utang.

Jadi PE mengakuisisi perusahaan yang distressed di harga murah, lalu memperbaiki perusahaan tersebut secara menyeluruh, sampai perusahaan tersebut pulih lalu PE akan melakukan exit, bisa dengan IPO atau divestasi.

PE dapat modal dari mana? Dari investor dan utang, mereka akan menggandeng investor sebagai limited partner untuk membeli sebuah perusahaan. Investor ini nantinya akan masuk lewat ekuitas atau bisa melalui mezzanine debt dan/atau MCB.


Private Equity Fund

Saat ini PE sudah agak bergeser fungsinya karena ketika ekonomi pulih dan berkembang, sudah sulit menemukan perusahaan yang bisa diakuisisi dengan harga murah menggunakan utang. Sehingga bisa dilihat banyak PE yang masuk perusahaan yang sudah settled seperti SIDO, JPFA, dan AISAhhhhh (ooopss).

Di Indo sendiri keberadaan PE memang kurang umum, pertama kali PE mulai eksis di Indo pasca krisis 1998. Ketika itu banyak perusahaan kolaps atau terkena bailout. Permasalahannya banyak ketika itu, belum populernya penerapan GCG dan keuangan perusahaan yang hancur ketika krisis yang mengakibatkan arus permodalan (utang) sulit masuk ke Indo.

Akhirnya beberapa perusahaan investasi dari luar negeri mulai tertarik untuk mengakuisisi aset di Indo. Yang pada akhirnya memunculkan banyak advisory seperti Hary Tanoe, Rosan Roeslani, Sandiaga Uno, Patrick Walujo, dan Thomas Lembong.

Six Private Equity Lessons

Daftar Isi Buku Lessons from Private Equity Any Company Can Use

Oke langsung saja masuk ke pembahasannya, jadi di buku ini Gadiesh dan MacArthur menjelaskan ada 6 poin atau cara manajemen perusahaan dan PE itu sendiri dalam mengelola sebuah bisnis.

Ketika PE mengakuisisi sebuah perusahaan umumnya mereka tidak terlibat dalam manajemen perusahaan namun mereka hire profesional terbaik di bidangnya dan PE mengendalikan perusahaan hanya melalui keputusan-keputusan strategis ketika RUPS, termasuk ketika akan melakukan financial engineering. Jadi PE tidak bersentuhan langsung dengan bisnis perusahaan.

Enam cara tersebut adalah.

  1. Defining the full potential of your company
  2. Developing a road map to get to that potential
  3. Accelerating current organizational performance
  4. Harnessing and rewarding top talent
  5. Leveraging cash as productively as possible
  6. Fostering a results-oriented mindset.

Defining The Full Potential of Your Company

Hal pertama yang dilakukan oleh PE adalah mengembangkan pemahaman yang jelas tentang di mana dan bagaimana suatu bisnis menghasilkan uang dan mengapa harus memilikinya.

Kenapa harus menghasilkan uang? Karena berhubungan dengan arus kas. Mengapa penting? Karena mereka akuisisi perusahaan distressed dengan utang. Sehingga arus kas bebas sangat krusial supaya perusahaan dapat membayar beban utangnya.

Selanjutnya adalah melakukan due dilligence dengan menganalisis setidaknya lima hal berikut :

  1. Derived demand analysis (Analisis permintaan)
  2. Customer analysis (Analisis pelanggan)
  3. Competitive analysis (Analisis kompetitif)
  4. Environmental analysis (Analisis Lingkungan)
  5. Microeconomic analysis (Analisis Makro Ekonomi)

Selanjutnya berdasarkan temuan due diligence, PE akan menetapkan nilai target ekuitas untuk titik waktu tertentu umumnya tiga sampai lima tahun. PE akan menganalisis potensi penuh dari bisnis dan keuangan yang direncanakan. Sasaran juga didasarkan pada asumsi bahwa PE juga akan berhasil menyuntikkan pemikiran dan modal baru ke perusahaan jika diperlukan.

The target is increased equity value—how to turn $1 of equity value today into $3, $4, or $5 tomorrow. Strategic due diligence is the way to set the number, and growing cash flow by pursuing a few core initiatives is the way to get there.

Develop The Blueprint

Setelah menganalisis potensi perusahaan, PE akan memiliki gambaran tentang seberapa besar potensi perusahaan. PE akan tahu bagian mana saja yang memerlukan investasi dan perhatian sistematis dalam jangka pendek dan menengah, untuk memastikan pengembalian tertinggi dalam tiga hingga lima tahun. Sekarang tujuannya adalah untuk mewujudkannya. Sehingga perlu dibuat blueprint.

Oh ya kenapa 3-5 tahun? Karena PE punya timeframe investasi pendek. Atau bahkan kurang dari itu mereka bisa exit.

Di tahap pembuatan blueprint, PE akan memulai dengan dasar

  1. Potensi nilai ekuitas dalam 3-5 tahun
  2. Langkah agresif yang diperlukan untuk develop potensi penuh dari perusahaan, dalam hal ini harus agresif.

The blueprint is the road map for reaching your full potential—the who, what, when, where, and how. It zeroes in on the few core initiatives and delineates a step-by-step plan to turn them into results. The emphasis is on measurable actions.

Accelerate Performance

Selanjutnya adalah proses memulai eksekusi dan akselerasi. Proses ini adalah kombinasi dari banyak kegiatan terpisah yang saling mempengaruhi dan memperkuat.

This involves molding the organization to the blueprint, matching talent to key initiatives, and getting people to own them. It also involves creating a rigorous program to achieve your ends—one that combines tools, discipline, and the monitoring of a few key metrics.

Harness The Talent

Ini bisa dibilang adalah aspek paling krusial. PE akan memberi banyak ruang bagi dewan direksi perusahaan untuk mengelola perusahaan. Di beberapa kasus PE akan masuk ke manajemen perusahaan dengan membawa orang dengan bakat khusus. Orang ini akan menjadi perpanjangan tangan PE. Biasa disebut operating arm.

Contoh: Pake contoh real yang aku tau.

Northstar punya ini di Gojek, Andre Soelistyo. Dulu juga pernah di DOID. Mereka juga ada Jerry Ng dulu di BTPN.

Quvat, punya Principia.

This requires creating the right incentives to recruit, retain, and motivate your best talent—and get them to think and act like owners. It also requires assembling a decisive and efficient board.

Make Equity Sweat

Ini intinya simpel sih, utang.

Hampir setiap bisnis membutuhkan modal untuk tumbuh. PE akan meleverage perusahaan yang mereka beli. Utang dipilih karena dianggap sebagai struktur modal yang relatif murah. Jadi belinya dulu pake utang, terus perusahaan dileverage.

Jika membutuhkan $100 untuk pertumbuhan, mereka (biasanya) membiayai jumlah itu dengan $70 hutang dan $30 dari ekuitas. Kemudian mereka fokus menghasilkan arus kas bebas, yang digunakan untuk membayar utang atau menginvestasikan kembali dengan agresif dan produktif. PE akan memaksa bisnis untuk menjadi seefisien mungkin: “membuatnya berkeringat”.

The challenge is to embrace LBO economics. This calls for managing working capital aggressively, disciplining capital expenditures, and working the balance sheet hard.

Foster a Results-Oriented Mindset

Menumbuhkan pola pikir yang berorientasi pada hasil adalah tentang menciptakan pengulangan yang konsisten dan berkelanjutan yang akan memacu peningkatan kinerja lagi dan lagi. “No time to sleep.”

The goal is to inculcate PE disciplines so that they become part of the company’s culture and create a repeatable formula for achieving results.

Iklan

0 comments on “Bedah Buku : Lessons from Private Equity Any Company Can Use By Orit Gadiesh & Hugh MacArthur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: